Rabu, 30 April 2014

Analisa Kebutuhan Training di Rumah Sakit

Analisa Kebutuhan Training di Rumah Sakit

      Salah satu peran manajemen SDM adalah melakukan pengembangan terhadap kompetensi semua karyawan agar memenuhi dan menjadi kekuatan organisasi untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Secara sistematis proses pengembangan kompetensi diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan melalui analisa kebutuhan pelatihan (Training Need Analysis) atau penilaian kompetensi berdasarkan tugas dan tanggung jawab karyawan baik sekarang maupun yang akan datang.


Analisa kebutuhan pelatihan bertujuan untuk menemukan kesenjangan antara pengetahuan dan kemampuan karyawan dengan yang seharusnya di ketahui dan dilakukan. Analisa kebutuhan adalah menganalisis apa yang senyatanya dengan apa yang seharusnya. Apa yang seharusnya merupakan persyaratan kompetensi yang harus dipunyai oleh karyawan. Kesenjangan (gap) yang teridentifikasi dari pembandingan itu merupakan ruang pengembangan kompetensi dengan pelatihan atau yang lainnya. Idealnya pengembangan kompetensi tersebut dilakukan secara seimbang antara dimensi mental, social, spiritual dan fisik sehingga mampu menciptakan kekuatan sinergis.

Rumah sakit merupakan organisasi dengan kompleksitas yang sangat tinggi. Sering rumah sakit diistilahkan sebagai organisasi yang padat modal, padat SDM, padat teknologi, padat ilmu pengetahuan dan padat regulasi. Jumlah SDM yang banyak dengan berbagai profesi yang ada, teknologi dan ilmu pengetahuan yang selalu berkembang serta regulasi yang berubah menuntut adanya program pengembangan kompetensi yang selalu berjalan terus menerus agar rumah sakit bisa menjaga eksistensinya. Selain itu, rumah sakit sebagai organisasi pelayanan jasa, SDM mempunyai peran sangat penting dalam menentukan kualitas produk rumah sakit. Sehingga kompetensinya harus selalu di kembangkan. Pelatihan merupakan salah satu program pengembangan kompetensi dan agar bisa efektif dan mencapai sasaran perlu di lakukan analisa kebutuhan pelatihan.

Ada 3 tipe analisa kebutuhan pelatihan yaitu,

Organizational based need analysis,

Job competency based need analysis,

Person Competency need analysis.

Berikut uraiannya:

1. Organizational based need analysis merupakan analisa yang dilakukan berdasarkan pada kebutuhan strategis rumah sakit dalam merespon bisnis masa depan. Kebutuhan strategis ini dirumuskan dengan mengacu pada corporate strategy dan corporate value yang merupakan faktor kunci efektifitas dan keberhasilan organisasi. Sebagai contoh hasil rumusan dari corporate strategy dan corporate value yang merupakan faktor kunci keberhasilan rumah sakit adalah Communication, Teamwork, Exelence service, Learning , Leadership, Development. Dari faktor-faktor kunci tadi dilakukan penilaian untuk mengidentifikasi pada faktor apa rumah sakit masih mengalami kekurangan yang paling besar, dan karenanya perlu diprioritaskan pengembangan pelatihannya. Misalnya dari hasil menilaian ternyata teamwork kurang dan pelayanan belum excellence maka perlu dilakukan pelatihan tentang dua hal tersebut di bagian-bagian yang terkait.

2. Job competency based need analysis adalah analisa kebutuhan pelatihan yang didasarkan pada profil kompetensi yang dipersyaratkan untuk setiap posisi/jabatan. Dalam setiap jabatan dalam organisasi pasti ada persyaratan-persyaratan yang menyertainya. Misalnya bagian pemasaran dipersyaratkan mampu melakukan analisis pasar dan membuat program-program pemasaran, maka salah satu pelatihan yang harus diikuti oleh pejabat tersebut adalah pelatihan tentang pemasaran. Kepala bangsal dipersyaratkan mampu mengelola bangsal dengan baik, maka perlu ada pelatihan manajemen kepala bangsal.

3. Person Competency need analysis adalah analisa kebutuhan pelatihan yang didasarkan pada kesenjangan ( gap) antara level kompetensi yang dipersyaratkan dengan level kompetensi aktual karyawan/individu. Misalnya untuk perawat di unit gawat darurat dipersyaratkan mempunyai sertifikat PPGD, maka masing-masing indivisu dinilai apakah sudah memenuhi syarat tersebut atau belum. Kalau belum, maka perlu diberikan pelatihan tersebut. Dokter yang berada di unit gawat darurat dipersyaratkan mempunyai sertifikat ATLS dan ACLS, maka bagi dokter yang belum memenuhi perlu diikutkan pelatihan tersebut. Selain mengidentifikasi kemampuan skill dan knowledgenya, perlu juga di analisis kesenjangan perilaku karyawan dari standar yang dipersyaratkan, misalnya kemampuan komunikasinya, keberagamaannya dan lain-lain.

Hasil-hasil analisis identifikasi kesenjangan kompetensi tadi dirangkum sebagai dasar dalam pembuatan perencanaan program pelatihan. Dengan analisis kebutuhan pelatihan yang komprehensif ini maka diharapkan program pelatihan menjadi salah satu program pengembangan karyawan yang terintegrasi sehingga mampu menaikkan daya saing rumah sakit.

Sumber: http://indosdm.com/analisa-kebutuhan-training-di-rumah-sakit

Senin, 11 Februari 2013

Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Post Stroke Non Hemorhagik

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Ny. M DENGAN POST STROKE

A.     PENGKAJIAN (Tanggal 27 Oktober 2012)
1.      Data Umum
a.       Nama KK
b.      Alamat
c.       Pekerjaan
d.      Pendidikan
e.       Agama
f.        Komposisi
:  Ny. M
:  Desa ..............
:  Ibu Rumah Tangga
:  Lulus SD

Selasa, 25 Desember 2012


BAB I
PENDAHULUAN
         
A.    Latar Belakang
Manajemen keperawatan adalah proses bekerja melalui anggota staf  keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara professional. Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan mengoptimalkan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi mandiri perawat. Hal ini dapat diwujudkan dengan baik melalui komunikasi yang fektif antar perawat, maupun dengan tim kesehatan yang lain. Salah satu bentuk komunikasi yang harus ditingkatkan efektivitasnya adalah saat pergantian shift (timbang terima pasien) (Nursalam, 2008: 195).
Timbang terima pasien (operan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien.
Disini dituntut tugas manajer keperawatan untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk memberikan asuhan keperawatan seefektif dan seefisien mungkin bagi individu keluarga dan masyarakat (Gillis,1996). Salah satu strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan keperawatan dalam pembenahan manejemen keperawatan, karena dengan adanya faktor kelola yang optimal diharapkan mampu menjadi wahana peningkatan keefektifan pembagian pelayanan keperawatan sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.
Salah satu upaya yang dapat di gunakan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan klien adalah dengan melakukan timbang terima saat pergantian dinas. Timbang terima merupakan teknik atau cara menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima dilakukan oleh Perawat primer ke perawat asosiate yang bertanggung jawab pada dinas sore atau dinas malam. Timbang terima yang efektif dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.
Tujuan dari timbang terima adalah agar semua perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna, meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat dan yang lebih penting adalah agar terjadi suatu hubungan kerjasama antar perawat serta terlaksananya asuhan perawatan terhadap klien yang berkesinambungan .
Ruang ……… sebagai satu unit pelayanan keperawatan yang merupakan salah satu ruangan percontohan yang sudah mulai menerapkan sistem/metode SP2KP, yang memungkinkan bagi perawat untuk menerapkan ilmu dan kiat, untuk itu diperlukan ilmu dan kiatnya secara  optimal. Untuk itu diperlukan bentuk kerjasama yang berkesinambungan dan saling mempunyai komitmen ynag tinggi demi perkembangan pelayanan keperawatan dalam melaksanakan timbang terima yang benar.

B.     Nama Kegiatan
Pelaksanaan timbang terima pada saat pergantian dinas di ruang ……………...

C.    Tujuan
1.      Tujuan umum
Meningkatkan kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan yang komprehensif
2.      Tujuan khusus
a.       Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
b.      Meningkatkan hubungan kerjasama yang bertanggung jawab antar anggota tim perawat serta terlaksana asuhan keperawatan terhadap klien yang berkesinambungan.

D.      Manfaat
1.      Bagi Perawat
-       Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat
-       Menjalin hubungan kerjasama dan bertanggung jawab antar perawat.
-       Pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien yang berkesinambungan.
-       Perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna.


2.      Bagi Pasien
-       Klien dapat menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap.

E.     Pelaksanaan
1. Hari/ tanggal     : Kamis, 14 Juli 2011
2. Waktu               : 08.00 – 08.30 WITA
3. Tempat              : Ruang ……..

F.     Peserta
Kegiatan ini dihadiri oleh  :
1.      Bpk. ….
2.      Bpk. …..
3.      Bpk. ……... Pembimbing Akademik
4.      Staff keperawatan ……………….
5.      Mahasiswa praktik manajemen Ners ………...

G.    Penutup
Demikian proposal ini dibuat , atas perhatiannya disampaikan terima kasih.


                                                                              …………………, 7 Juli 2011

                                                                                   Penanggung jawab








BAB II
LANDASAN TEORI

Timbang terima merupakan cara menyampaikan dan menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien.
Tujuan Timbang terima adalah sebagai berikut :
1.      Menyampaikan kondisi dan keadaan klien
2.      Menyampaikan hal-hal yang sudah dilakukan dalam asuhan keperawatan pada klien
3.      Menyampaikan permasalahan keperawatan klien yang masih ada dan yang sudah terselesaikan.
4.      Menyampaikan hal-hal penting yang harus ditindak lanjuti oleh dinas berikutnya
5.      Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya
Timbang terima yang efektif dapat dilakukan secara lisan atau tulisan. Timbang teima yang baik bila semua perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara kontinu dan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi perawat, kerjasama yang bertanggung jawab antar anggota tim perawat.
Ketentuan dalam timbang terima itu adalah sebagai berikut :
1.      Dilaksanakan pada setiap pergantian shift
2.      Dipimpin oleh perawat primer  sebagai penanggung jawab
3.      Diikuti perawat, mahasiswa dinas yang telah maupun akan berdinas
4.      Terdapat unsur bimbingan dan pengarahan dari penanggung jawab
5.      Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, menggambarkan keadaan klien saat ini dan tetap menjaga kerahasiaan klien
6.      timbang terima yang dilakukan harus berorientasi pada permasalahan keperawatan, rencana, tindakan dan perkemabangan kesehatan klien.







klien
Diagnosa medis/masalah kolaboratif
Yang telah dilakukan
Rencana tindakan
Diagnosa keperawatan
Perencanaan : teraatasi keseluhan, sebagian, belum teratasi dan terdapat masalah baru
Yang akan dilakukan
Perkembangan keadaan klien
 













                                                                                                          



 
 
 
 
Mekanisme timbang terima
Kepala Ruangan
Membimbing, mengarahkan dan menyelesaikan masalah/problem solving
Diskusi di nurse station  (Karu, PP,PA) kondisi klien bersifat rahasia
Timbang terima disamping klien, Karu, PP,PA                        dokumentasi
 










BAB III
PELAKSANAAN

A.    Prosedur Timbang Terima
TAHAP
KEGIATAN
WAKTU
TEMPAT
PELAKSANAAN
Persiapan
1.   Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift/overan
2.   Prinsif timbang terima, semua pasien baru masuk dan pasien yang duilakukan timbang terima khususnya pasien yang memiliki permasalahan yang belum dapat teratasi serta yang membutuhkan observasi lebih lanjut.
3.   Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
5 menit
Nurse Station
PP dan PA
Pelaksanaan
1.    Kedua kelompok dinas sudah siap (shift jaga)
2.    Kepala ruangan membuka acara timbang terima
3.    PP menyampaikan timbang terima pada PP berikutnya, hal yang perlu disampaikan dalam timbang terima:
·    Jumlah pasien
·   Identitas klien dan diagnosa medis
·   Data (keluhan/subjektif dan objektif)
·   Masalah keperawatan yang masih muncul
·   Intervensi keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan (secara umum)
·   Intervensi kolaboratif dan dependen
4.    Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan (persiapan operasi, pemeriksaan penunjang dan lain-lain.
5.    Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi Tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah ditimbang terimakan dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas
6.    Kepala ruangan/PP menanyakan kebutuhan dasar pasien
7.    Penyampaian yang jelas, singkat dan padat
8.    Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara penuh terhadap masalah keperawatan, kebutuhan dan tindakan yang telah/belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya selama masa perawatan
9.    Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang matang sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada petugas berikutnya
10.                  Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak  lebih dari 5 menit, kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan keterangan yang rumit.
20 menit
Ners station




















Ruang perawatan
KARU, PP dan PA

1.    Diskusi
2.    Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada format timbang terima yang ditandatangani oleh PA yang jaga saat itu dan PP yang jaga berikutnya, diketahui oleh kepala ruangan
3.    Ditutup oleh kepala ruangan
5 menit
Ners Station
KARU, PP dan PA


B.     Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
1.      Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift
2.      Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab pasien (PP)
3.      Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas
4.      Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis dan menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan pasien
5.      Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien
6.      Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume suara yang cukup, sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang rahasia bagi pasien. Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung didekat klien
7.      Sesuatu yang mungkin membuat klien terkejut dan shjock sebaiknya dibicarakan di ners station.

C.    Rencana Strategi Timbang Terima
1.      Pelaksanaan Timbang Terima
Hari/tanggal     : Kamis, 14 Juli 2011
Pukul               : 08.00 – 08.30 WITA
Topik               : Penyampaian kondisi dan keadaan klien:
-          Penyampaian hal-hal yang sudah dilakukan dalam asuhan keperawatan.
-          Penyampaian permasalahan keperawatan klien yang masih ada dan sudah terselesaikan.
-          Penyampaian hal-hal yang penting yang harus ditindaklanjuti.
Tempat            : Ruang ……………..

2.      Metode
a.       Diskusi
b.      Tanya Jawab


3.      Media
a.       Status Klien
b.      Buku timbang terima
c.       Alat tulis
d.      Sarana dan prasarana keperawatan

4.      Pengorganisasian
Kepala Ruangan                      :
Supervisor                               :
Perawat Primer (pagi)              :
Perawat Associate (pagi)         :
Perawat Associate (sore)         :
 
Perawat Associate (malam)     :
Perawat Associate (libur)        :
Pembimbing Klinik                 :
Pembimbing Akademik           :
Kabid Keperawatan                :

5.      Uraian Kegiatan
a.       Prolog
Pada hari Rabu, 13 Juli 2011 jam 08.00 WITA seluruh perawat (PP dan PA), shift pagi dan malam (shif malam hari Selasa, 12 Juli 2011) serta kepala ruangan dan supervisor berkumpul di ners station untuk melakukan timbang terima.
b.      Sesi 1 di ners station
Kepala ruangan memimpin dan membuka acara yang didahului dengan doa dan kemudian mempersilahkan PA dinas malam untuk melaporkan keadaan dan perkembangan pasien selama bertugas kepada PP yang akan berdinas selanjutnya (pagi). PA hift sore memberikan klarifikasi keluhan, intervensi keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan (secara umum), intervensi kolaboratif dan dependen, rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan (persiapan operasi, pemeriksaan penunjang dan lain-lain), hal yang belum jelas atas laporan yang telah disampaikan. Setelah melakukan timbang terima di ners station berupa laporan tertulis dan lisan, kemudian diteruskan di ruangan perawatan pasien.
c.       Sesi 2 si ruang perawatan pasien
Seluruh perawat dan kepala ruangan bersama-sama melihat ke tempat pasien. PP dinas selanjutnya mengklarifikasi dan memvalidasi data langsung kepada pasien atau keluarga yang mengalami masalah khusus. Untuk pasien yang tidak mengalami masalah khusus, kunjungan tetap dilaksanakan. Lamanya kunjungan tidak lebih 5 menit per pasien. Bila terdapat hal-hal yang bersifat rahasia bagi pasien dan keluarga perlu diklarifikasi, maka dapar dilakukan di ners station setelah kunjungan ke pasien.
d.      Epilog
Kembali ke ners station. Diskusi tentang keadaan pasien yang bersifat rahasia. Setelah proses timbang terima selesai dilakukan, maka antara PP pagi dan PA yang bertugas malam tadi mendata laporan timbang terima dengan diketahui oleh kepala ruangan
e.       Evaluasi
1)      Struktur (input)
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang yang telah tersedia antara lain: catatan timbang terima, status klien, dan kelompok shift timbang terima. Kepala ruangan selalu memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift, yaitu malam ke pagi dan pagi ke sore. Kegiatan timbang terima pada shift sore ke malam dipimpin oleh perawat primer yang bertugas saat itu.
2)      Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan dilaksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift. Timbang terima pertama dilakukan di ners station kemudian ke ruang perawatan pasien dan kemudian lagi ke ners station. Isi timbang terima mencakup jumlah pasien, diagnosis keperawatan dan intervensi yang belum/sudah dilakukan. Waktu untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit saat klarifikasi ke pasien.
3)      Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Stiap perawat dapat mengetahui perkembangan pasien. Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.


























DAFTAR PUSTAKA

Nursalam, 2002, Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profisional, Selemba Medika, Jakarta.